Selasa, 15 November 2016

Varian Pendekatan Agama (Jilid I)



1.      Pendekatan antroplogis
Pendekatan ini lebih terpopulerkan oleh Karl Max (1883) dan Max Weber (1920) yang mendapatkan ruh social kekeluargaan di bawah naungan Lewis Henry Morgan (1881). Pendekatan keagamaan dalam dunia akademis islam (Islamic academic) yang berebentuk antroplologis merupakan trend pendekatan yang digunakan dalam dunia penelitian, sebab dari pendekatan ini akan memunculakan ide yang terilhami dari corak budaya setempat. Tentu, ini mengacu setiap budaya yang berbeda pada wilayah tertentu. Sehingga dari pendekatan budaya yang dilakukan secara kolektif dari mayoritas mazhab budaya yang diyakini inilah orang menyebutnya sebgai pendekakan antropologi budaya.  Pendekatan antropologi yang lainnya dalah pendekatan antropologi social. Pendekatan inilah yang juga sebagai grand dalam memilah corak social yang ada. Tidak hanya itu, dengan pendekatan social ini juga sang peneliti dapat mencari pola social yang ada sehingga dapat memahami instrument social yang menjadi acuan dasar kemasyarakatan yang tumbuh di daerah tersebut. Kedua metode dan teori pendekatan ini sangat mustahil apabila hanya ditelusuri dengan kepustakaan saja tanpa adanya ikut merasa dan menyelami yang terdapat di lapangan, sehingga fardhu hukumnya ketika peneliti ingin mendapatkan data yang valid dan komprehensip untuk ikut, mengalir di kehidupan waktu yang lama secara kondusif untuk melihat sesuatu kebutuhan yang lain terkait manusia tersebut.[1]

2.      Pendekatan Fenomenologis
Pendekatan ini lahir dengan adanya koreksi dari berbagai macam pemikiran yang ada seperti pemikiran teologis (akan dijelaskan berikutnya), pendekatan ini menilai adanya berbagai macam hal yang berkaitan dengan kontribusi manusia yang terlalu irrasioanal. Alur pemikiran yang rasioal adalah jargon utama dalam pendekatan ini, sebab ini dinilai akan menjadi kontribusi yang humanitas dan membawa aspek kajian menjadi dinamis dan positif. Pendekatan ini memupyai karakteristik yang epoche,[2] artinya kritis terhadap berbagai kejadian yang perlu dikritisi, sehingga dari pendekatan ini akan membawa intuitif terhadap hasil kajian yang diharapkan, tentu dari kajian ini banyak perbedaan yang akan mengingkarinya karena letak kajian fenomenologis yang objektif membuat akan pemikiran manusia tumpang tindih.





[1] Peter Connoly (ed). Aneka Pendekatan Studi Agama, Yogyakarta: Lkis). 2002, hlm. 26
[2] Peter Connoly (ed). Aneka Pendekatan Studi Agama…hlm. 111

Tidak ada komentar:

Posting Komentar