1.
Pendekatan antroplogis
Pendekatan
ini lebih terpopulerkan oleh Karl Max (1883) dan Max Weber (1920) yang
mendapatkan ruh social kekeluargaan di bawah naungan Lewis Henry Morgan (1881).
Pendekatan keagamaan dalam dunia akademis islam (Islamic academic) yang
berebentuk antroplologis merupakan trend pendekatan yang digunakan dalam dunia
penelitian, sebab dari pendekatan ini akan memunculakan ide yang terilhami dari
corak budaya setempat. Tentu, ini mengacu setiap budaya yang berbeda pada
wilayah tertentu. Sehingga dari pendekatan budaya yang dilakukan secara
kolektif dari mayoritas mazhab budaya yang diyakini inilah orang menyebutnya
sebgai pendekakan antropologi budaya.
Pendekatan antropologi yang lainnya dalah pendekatan antropologi social.
Pendekatan inilah yang juga sebagai grand dalam memilah corak social yang ada.
Tidak hanya itu, dengan pendekatan social ini juga sang peneliti dapat mencari
pola social yang ada sehingga dapat memahami instrument social yang menjadi
acuan dasar kemasyarakatan yang tumbuh di daerah tersebut. Kedua metode dan
teori pendekatan ini sangat mustahil apabila hanya ditelusuri dengan
kepustakaan saja tanpa adanya ikut merasa dan menyelami yang terdapat di lapangan,
sehingga fardhu hukumnya ketika peneliti ingin mendapatkan data yang valid dan
komprehensip untuk ikut, mengalir di kehidupan waktu yang lama secara kondusif
untuk melihat sesuatu kebutuhan yang lain terkait manusia tersebut.[1]
2.
Pendekatan Fenomenologis
Pendekatan
ini lahir dengan adanya koreksi dari berbagai macam pemikiran yang ada seperti
pemikiran teologis (akan dijelaskan berikutnya), pendekatan ini menilai adanya
berbagai macam hal yang berkaitan dengan kontribusi manusia yang terlalu
irrasioanal. Alur pemikiran yang rasioal adalah jargon utama dalam pendekatan
ini, sebab ini dinilai akan menjadi kontribusi yang humanitas dan membawa aspek
kajian menjadi dinamis dan positif. Pendekatan ini memupyai karakteristik yang
epoche,[2]
artinya kritis terhadap berbagai kejadian yang perlu dikritisi, sehingga dari
pendekatan ini akan membawa intuitif terhadap hasil kajian yang diharapkan,
tentu dari kajian ini banyak perbedaan yang akan mengingkarinya karena letak kajian
fenomenologis yang objektif membuat akan pemikiran manusia tumpang tindih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar